Tugas 3 Tawuran Pelajar

Oktober 6, 2011 pebyword
Tag:

Contoh Kasus TáwÜrÃÑ
Pelajar SMA 70 & SMA 6 Tawuran di GOR Bulungan, Tiga Luka
________________________________________

Jakarta – Puluhan pelajar terlibat tawuran di depan Gedung Olah Raga (GOR) Bulungan, Jl Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tiga orang pelajar terluka dalam tawuran tersebut.

Tawuran tersebut terjadi pada Jumat (15/7/2011) malam sekitar pukul 22.50 WIB. Dua kelompok pelajar yang terlibat tawuran yakni SMA 70 dan SMA 6. Kedua kelompok saling baku hantam dengan menggunakan kayu balok yang mengakibatkan jatuhnya korban luka.

Pantauan detikcom di lokasi, tiga korban yang terlihat mengenakan baju seragam putih-abu tersebut digotong warga. Warga setempat kemudian mengevakuasi korban ke dalam mobil untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.

Belum diketahui pemicu tawuran tersebut. Namun, warga setempat menyatakan, aksi tawuran tersebut merupakan tawuran susulan.

“Sebelumnya mereka tawuran juga pada siang harinya,” ujar seorang juru parkir di lokasi.

Tawuran tersebut sempat menghambat arus lalu lintas di lokasi. Sejumlah kendaraan yang mengarah ke Bulungan terpaksa memutar dan mencari alternatif jalan lain. Warga setempat sempat membubarkan aksi tawuran tersebut. Di lokasi hanya ada dua polisi yang berjaga.

Belum ada keterangan resmi dari kepolisian terkait peristiwa ini. Sementara situasi di lokasi saat ini sudah berangsur normal.

udah berapa generasi nih sekolaan tawuran mulu

padahal 70 sekolah unggulan loh, jebolannya banyak yang lari ke UI, ITB, UGM
http://www.kaskus.us/showthread.php?s=85bedb553e6d18f1a08f3238eb820393&p=472776677#post472776677

Ketimbang memindahkan SMA 6 ke lokasi lain seperti disarankan Kapolres Jakarta Selatan, lebih baik SMA 6 digabung dengan SMA 70. Karena lokasi keduanya bersebelahan, penggabungan tentu lebih mudah dilakukan.
Penggabungan sekolah untuk menghentikan tawuran pelajar sebenarnya bukan hal baru. SMA 70 Bulungan sebenarnya adalah penggabungan SMA 9 dan 11 di tahun 80-an. Kedua SMA itu sering terlibat tawuran sehingga diputuskan digabung saja. Setelah digabung bukan saja tawuran berhenti, tetapi prestasi SMA 70 meroket sehingga termasuk sekolah yang menjadi pilihan orang tua untuk anak-anaknya.
Memindahkan SMA 6 ke lokasi lain, selama berada di sekitar Jakarta, tidak akan menghentikan tawuran. Dua sekolah yang menyimpan dendam tetap akan berantem walaupun lokasinya berjauhan. Penulis adalah alumni SMA 6 tahun 1994 dan masih ingat ketika itu pelajar STM Penerbangan (sekarang namanya SMK Negeri 29) di Jalan Djoko Sutono, Kebayoran Baru sering mencari-cari pelajar SMA 6 yang kebetulan melintas di area sekitar Pasar Santa. Ketika itu dua kali seminggu penulis dan kawan-kawan pergi ke daerah Mampang untuk mengikuti les persiapan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Nasional). Metro Mini S75 yang kami tumpangi rutenya memang melewati STM Penerbangan. Atas alasan keamanan, kami selalu memilih waktu-waktu tertentu di luar jam bubaran mereka dan mengganti baju seragam kami dengan kaos biasa.
Tidak hanya bermasalah dengan STM Penerbangan, bahkan pelajar STM Budi Utomo (Boedoet) yang jauh di daerah Kota, Jakarta Pusat sering “bersilaturahmi” ke daerah Blok M dan Bulungan untuk sekedar beradu tinju dengan pelajar SMA 6. Penulis masih ingat ketika itu di tahun 1993-1994 terpaksa pulang larut malam akibat serbuan senja dari anak-anak STM Boedoet ke sekolah kami. Jarak jauh Kota-Blok M tidak menghalangi mereka untuk datang “menyapa” kami.
Melainkan jika SMA 6 dipindah ke Cilacap atau Nusakambangan, saya percaya SMA 6 dan SMA 70 tidak akan berantem selama-lamanya🙂
* * *
Ketidaktegasan polisi menindak pelaku tawuran pelajar bukan hanya terjadi saat ini. Penulis masih ingat 15-20 tahun lalu polisi pun tidak mampu berbuat apa-apa terhadap pelajar yang berkelahi. Paling banter ya melepaskan tembakan peringatan.
Kenapa polisi terkesan tidak mampu berbuat banyak? Mungkin polisi berpikir tawuran itu cuma bentuk kenakalan anak-anak sehingga tidak perlu diseriusi. Atau polisi juga teringat anak sendiri di rumah sehingga tidak tega menindak tegas pelajar yang tawuran.
Polisi harus mengubah cara berpikirnya. Tawuran bukan lagi bentuk kenakalan anak-anak. Tawuran pelajar adalah teror. Dan pelaku teror bisa saja anak-anak seperti kita lihat di negara lain yang menggunakan anak kecil sebagai pelaku bom bunuh diri. Efek tawuran sama seperti efek teror kepada masyarakat.
Akhir tahun 90-an penulis (sudah kuliah di sebuah PTN di Depok) berada di dalam bis kota. Di sebelah penulis duduk seorang ibu tua. Tiba-tiba di daerah Lenteng Agung serombongan pelajar berseragam memaksa naik ke atas bis. Di tangan mereka tergenggam parang, pisau, rantai, sabuk bermata logam, dan senjata-senjata tajam lainnya. Sopir dan kernet tak bisa berbuat apa-apa. Setelah sampai di tujuan mereka turun dan entah pertumpahan darah apa yang akan terjadi.
Ibu tua di sebelah penulis gemetar tak karuan. Penulis hanya bisa menggenggam tangan si ibu dan menenangkannya bahwa everything will be alright. Bukankah ini suatu bentuk teror kepada masyarakat. Dan apa alasan polisi untuk berpangku tangan menghadapi tindakan teror seperti ini?
Entah kenapa, di luar negeri seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, bahkan negara jiran seperti Singapura dan Thailand, penulis merasa tenang setiap kali melihat polisi di tempat umum. Mungkin karena penulis merasa polisi akan melakukan apa saja tindakan yang perlu untuk melindungi keselamatan publik. Tetapi di Indonesia lain rasanya. Melihat polisi bukan rasa aman yang didapat, tapi justru rasa takut. Takut ditilang, takut dikerjai macam-macam, dan parahnya mereka tidak mampu berbuat apa-apa ketika masyarakat terteror oleh tawuran pelajar!
http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/21/solusi-tawuran-merger-sma-6-dan-sma-70/

Tawuran sudah menjadi budaya di masyarakat. Konflik sosial ini sering terjadi walaupun karena hal kecil. Pelajar seharusnya tidak perlu melakukan aksi tawuran,karena pelajar adalah orang – orang yang berpendidikan yang seharusnya mengutamakan dialog daripada melakukan tindakan anarkis. Solusi dari tawuran adalah menghapus budaya mengutamakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, serta aparat dalam hal ini sebagai penegak hukum harus lebih tegas dan melakukan tindakan apa pun yang di anggap perlu untuk melindungi masyarakat dan kepentingan umum. Masyarakat juga berperan untuk menciptakan suasana yang nyaman. Mereka harus memberikan sanksi sosial apabila ada masyarakat atau kelompok lain yang berpotensi mengganggu ketentraman publik.

Entry Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Blogroll

GUNADARMA

Koneksi

chat with me..

 
%d blogger menyukai ini: